Sunday, October 23, 2011
Saturday, October 22, 2011
Pi el ei wai bi ow wai
"dia nanya mbak, kok malam minggu ga pergi sama pacar.. "
Oh itu terjemahan dari kata2 seorang anak perempuan kecil yg tiba2 memberondongku ketika aku baru mau pesan makan di warung tenda itu. Sepertinya dia mengatakannya dalam bahasa sunda.
Aku masih bengong. Ngucek2 mata memastikan aku sudah turun dari kopaja P 16 ciledug-kemanggisan. Sepanjang perjalanan aku tidur. Jangan2 ini mimpi.
"mbak.. !" dia mengagetkanku. Oh, bukan mimpi.
"lha ini baru pulang" jawabku sekenanya. Maksudnya baru pulang dr maen sama temen2.
"eh, mbak namanya siapa.. Bla bla bla.. Ibunya sudah meninggal ya bla bla.. Mbak yg jualan pulsa bla bla.. " (muka gw emang mirip counter apa)
Heran. Ini anak kecil hiperaktif banget.
"kalian udah sekolah belum? Kok nanya2 pacar..?" tanyaku membalas.
"dia nih, mbak. Stres baru ditinggal pacarnya"
Eh? Aku nyengir.
"udah dong, mbak. Aku kelas 4, dia ini kelas 3"
"kalo udah sekolah coba baca itu" aku menunjuk tulisan berejaan bahasa orang barat di kaos salah satu dr mereka.
"to... emm.. semit....you..emm..".
Dari caranya membaca, saya menebak paling banter mereka kelas 1 SD.
Dan tiba-tiba,
"mbak itu sebenarnya kurus. Tapi lebar ke samping. Bajunya sih kegedean".
Aku nyengir lagi. Kehabisan ekspresi.
"eh, mbak. Coba tangannya diginiin" mereka menunjukkan punggung tangannya. Awalnya aku ragu melakukannya, tapi ya sudahlah, kulakukan.
"tuh kan, putih aku.. Haha " mereka tertawa.
Aku buru2 narik tanganku sambil nyengir kuda (lagi). Dasar, gw dikerjain bocah2 kecil.
"pi el ei wai.. Bi ou wai bi ow wai" tiba2 mereka kompak nyanyi sambil niruin gerakan2 ababil.
Ya, ampun..
"eh, coba2.. Pi el ei wai bi ow wai nulisnya gmana? Katanya udah kelas empat" tantangku.
"p.. "
"trus?"
"l.."
"trus?"
"e.. "
"salah..! " aku tertawa penuh kemenangan.
Mereka ribut. Dan aku masih bertahan dg tawaku. Tawa yang aneh.
Oh itu terjemahan dari kata2 seorang anak perempuan kecil yg tiba2 memberondongku ketika aku baru mau pesan makan di warung tenda itu. Sepertinya dia mengatakannya dalam bahasa sunda.
Aku masih bengong. Ngucek2 mata memastikan aku sudah turun dari kopaja P 16 ciledug-kemanggisan. Sepanjang perjalanan aku tidur. Jangan2 ini mimpi.
"mbak.. !" dia mengagetkanku. Oh, bukan mimpi.
"lha ini baru pulang" jawabku sekenanya. Maksudnya baru pulang dr maen sama temen2.
"eh, mbak namanya siapa.. Bla bla bla.. Ibunya sudah meninggal ya bla bla.. Mbak yg jualan pulsa bla bla.. " (muka gw emang mirip counter apa)
Heran. Ini anak kecil hiperaktif banget.
"kalian udah sekolah belum? Kok nanya2 pacar..?" tanyaku membalas.
"dia nih, mbak. Stres baru ditinggal pacarnya"
Eh? Aku nyengir.
"udah dong, mbak. Aku kelas 4, dia ini kelas 3"
"kalo udah sekolah coba baca itu" aku menunjuk tulisan berejaan bahasa orang barat di kaos salah satu dr mereka.
"to... emm.. semit....you..emm..".
Dari caranya membaca, saya menebak paling banter mereka kelas 1 SD.
Dan tiba-tiba,
"mbak itu sebenarnya kurus. Tapi lebar ke samping. Bajunya sih kegedean".
Aku nyengir lagi. Kehabisan ekspresi.
"eh, mbak. Coba tangannya diginiin" mereka menunjukkan punggung tangannya. Awalnya aku ragu melakukannya, tapi ya sudahlah, kulakukan.
"tuh kan, putih aku.. Haha " mereka tertawa.
Aku buru2 narik tanganku sambil nyengir kuda (lagi). Dasar, gw dikerjain bocah2 kecil.
"pi el ei wai.. Bi ou wai bi ow wai" tiba2 mereka kompak nyanyi sambil niruin gerakan2 ababil.
Ya, ampun..
"eh, coba2.. Pi el ei wai bi ow wai nulisnya gmana? Katanya udah kelas empat" tantangku.
"p.. "
"trus?"
"l.."
"trus?"
"e.. "
"salah..! " aku tertawa penuh kemenangan.
Mereka ribut. Dan aku masih bertahan dg tawaku. Tawa yang aneh.
Kemanggisan, 22 Oktober 2011
Thursday, October 20, 2011
Catatan diklat
"Memakaikan terompah di kaki itu lebih mudah dan realistis daripada menggelar karpet di seluruh permukaan bumi"
Masih dengan gaya coolnya, dia mengucapkan kalimat yg membuatku mlongo ga ngerti itu..
"Maksudnya maksudnya?" Saya tidak mengerti.
"tujuan kamu pake sandal apa?"
"biar kaki gak kotor"
"nah, itu. Bukankah pake sandal itu lebih mudah dan memungkinkan daripada menggelari seluruh permukaan bumi, jika tujuannya sama, biar kaki ga kotor?"
Saya meng-owh-kan pertanyaannya yg memang tidak membutuhkan jawaban.
"Jadi, intinya.. Ketika kita tidak nyaman atau tidak sreg atau tidak suka dengan orang lain atau sesuatu di luar kita.. Mungkin bisa jadi, mindset kita sendiri yg perlu diubah.. Jadi bukan memaksakan orang atau sesuatu diluar kita agar sesuai dengan kehendak kita"
Saya manggut-manggut.
Kamis, 20 oktober 2011
Masih dengan gaya coolnya, dia mengucapkan kalimat yg membuatku mlongo ga ngerti itu..
"Maksudnya maksudnya?" Saya tidak mengerti.
"tujuan kamu pake sandal apa?"
"biar kaki gak kotor"
"nah, itu. Bukankah pake sandal itu lebih mudah dan memungkinkan daripada menggelari seluruh permukaan bumi, jika tujuannya sama, biar kaki ga kotor?"
Saya meng-owh-kan pertanyaannya yg memang tidak membutuhkan jawaban.
"Jadi, intinya.. Ketika kita tidak nyaman atau tidak sreg atau tidak suka dengan orang lain atau sesuatu di luar kita.. Mungkin bisa jadi, mindset kita sendiri yg perlu diubah.. Jadi bukan memaksakan orang atau sesuatu diluar kita agar sesuai dengan kehendak kita"
Saya manggut-manggut.
Kamis, 20 oktober 2011
Saturday, October 15, 2011
Friday, October 14, 2011
Aku lupa
"... Allah tidak suka orang sombong dan membangga2kan diri" (4:36)
Deg!
Terasa seperti aliran darah membentur sesuatu. Tersendat beberapa saat. Seketika hal2 yg ku alami belakangan ini berkelebatan satu per satu.
Tentang mendengar. Bahwa telinga itu berbilang lebih daripada mulut. Beberapa hari ini aku melupakan teori ini.
Tentang kesombongan. Bahwa ia menghalangi hati dari kebenaran. Bukan, bukan sombong atas kebaikan, tapi juga keburukan. Kenapa bangga dengan hal yg tak baik? Aku lupa belum menjawab pertanyaan ini.
Dan tentang 'aku'. Aku kadang 'benci' mendengar kata ini disebut banyak2. Tapi aku lupa, saat itu, aku juga sedang mengucapnya..
Deg!
Terasa seperti aliran darah membentur sesuatu. Tersendat beberapa saat. Seketika hal2 yg ku alami belakangan ini berkelebatan satu per satu.
Tentang mendengar. Bahwa telinga itu berbilang lebih daripada mulut. Beberapa hari ini aku melupakan teori ini.
Tentang kesombongan. Bahwa ia menghalangi hati dari kebenaran. Bukan, bukan sombong atas kebaikan, tapi juga keburukan. Kenapa bangga dengan hal yg tak baik? Aku lupa belum menjawab pertanyaan ini.
Dan tentang 'aku'. Aku kadang 'benci' mendengar kata ini disebut banyak2. Tapi aku lupa, saat itu, aku juga sedang mengucapnya..
Subscribe to:
Posts (Atom)